Derap suara keyboard memenuhi ruangan sempit itu. Jari-jarinya yang kurus menari di atas tombol-tombol usang, mengisi setiap kolom dalam formulir lamaran kerja. Matanya mulai kabur setelah berjam-jam menatap layar laptop yang sudah sering mati-matian bertahan dari overheat. Ia menarik napas panjang, menekan tombol “Kirim”, dan menutup layar dengan satu gerakan yang melelahkan.

Raka menelungkupkan wajahnya di meja. Kepalanya penuh dengan angka dan huruf yang tak lagi beraturan di pikirannya. Sudah berapa kali ia mengirim lamaran kerja? Lima puluh? Seratus? Entahlah. Sudah tak terhitung. Tapi yang pasti, hasilnya tetap nihil. Notifikasi email yang ia terima selalu sama: “Terima kasih telah melamar, tetapi kami memilih kandidat lain yang lebih sesuai.”

Kesabaran Raka sudah di ujung tanduk. Sejak mendapatkan gelar sarjananya beberapa bulan lalu, hidupnya seakan terperangkap dalam pusaran kegagalan. Ia berpikir, mungkin ia salah memilih jurusan. Hubungan Internasional? Dulu ia berpikir itu terdengar keren, sebuah jurusan yang akan membawanya ke dunia diplomasi, menjadi bagian dari perwakilan negara, atau setidaknya bekerja di perusahaan multinasional. Namun, kenyataan justru menamparnya keras. Lowongan pekerjaan untuk jurusannya jarang ada, dan jika pun ada, persaingannya luar biasa ketat.

Ia pernah mencoba mengembangkan keterampilannya. Mengikuti kursus singkat tentang HRD dan administrasi perkantoran, berharap bisa membuka peluang di bidang lain. Tapi tetap saja, semua terasa belum cukup. Setiap wawancara kerja yang ia hadiri, selalu berakhir dengan tatapan penuh belas kasihan dari pewawancara. “Kualifikasi Anda cukup baik, tapi kami mencari seseorang dengan pengalaman lebih,” atau “Mungkin Anda bisa mencoba memperluas keterampilan Anda lebih jauh lagi.”

Hampa. Itulah yang ia rasakan. Setiap hari yang ia lalui terasa semakin berat. Ia mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah ia tidak cukup pintar? Apakah ia tidak cukup berusaha? Atau apakah dunia ini memang tidak adil baginya?

Orang tuanya mulai khawatir, meskipun mereka tidak pernah secara langsung menekan Raka. Ibunya selalu bertanya dengan nada hati-hati, “Gimana hari ini, Nak? Ada kabar dari lamaranmu?” Dan Raka hanya bisa tersenyum tipis, menggeleng pelan. Ayahnya, yang selalu berusaha terlihat tenang, tak jarang menepuk bahunya dan berkata, “Tetap semangat, ya. Jangan menyerah.”

Namun, di balik kata-kata dukungan itu, Raka tahu bahwa mereka cemas. Biaya kuliah yang mahal, harapan besar yang mereka gantungkan padanya, dan kini ia hanya seorang pengangguran yang duduk di depan laptop setiap hari, berharap ada keajaiban datang mengetuk pintunya.

Raka mulai menghindari pertemuan keluarga. Setiap kali ada acara, ia selalu menemukan alasan untuk tidak datang. Ia tak sanggup menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang seolah menjadi penghakiman baginya. “Sudah kerja di mana sekarang, Raka?” “Kapan mulai meniti karier?” “Dulu kan pintar, kok belum dapat kerja juga?”

Malam itu, Raka terbaring di kasurnya, menatap langit-langit dengan pikiran yang kacau. Ia merasa gagal. Seolah-olah semua usahanya sia-sia. Ia menutup matanya, mencoba menenangkan diri, tetapi bayangan akan masa depannya yang suram terus menghantuinya. Ia merasa sendirian, terjebak dalam lingkaran keputusasaan yang tak kunjung usai.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari teman kuliahnya, Reno. “Bro, ada lowongan di perusahaan tempat gue magang dulu. Posisi admin, sih. Tapi kayaknya bisa dicoba. Mau gue kirimin infonya?”

Raka menatap layar ponselnya lama. Tiba-tiba, ada sesuatu yang mengusiknya. Sebuah perasaan yang sudah lama hilang: harapan. Dengan tangan gemetar, ia mengetik balasan, “Tolong kirimin, No. Gue coba apply.”

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Raka merasa sedikit lebih ringan. Mungkin, hanya mungkin, ada sedikit jalan keluar di ujung terowongan gelap yang selama ini ia jalani.

Tung….

Notifikasi pesan masuk dari Reno berisikan informasi lowongan pekerjaan. Secercah cahaya mulai muncul kembali. Matanya mulai menari-nari menyusuri setiap kalimat dalam lowongan tersebut.

Pria / Wanita
Mampu mengoperasikan komputer (Word, Excel, Powerpoint)
Penempatan di kota XY

Kualifikasi yang tercantum cukup general. Semangat yang telah lama redum mulai membara kembali. Ia segera menyalakan laptop tuanya dan mulai menulis lamaran untuk posisi tersebut.

“Sekarang ki..rim.”

Sejenak ia menengadahkan kepala menatap langit-langit kamarnya yang mulai kusam termakan usia. “Semoga kali ini berhasil.” Diusianya yang sudah kepala dua membuatnya mengenang masa-masa di bangku kuliah.

Kala dimana canda tawa selalu mengiringi hari-harinya pasca jam perkuliahan berakhir. Semua itu mulai berubah seiring bertambahnya semester. Kawan yang selalu bersama kini mulai sibuk dengan urusannya masing-masing. Puncaknya pada masa pengerjaan skripsi, perasaan sendirian dan kehampaan selalu mengiringi hari-harinya.

Kendati ia berhasil lulus dari bangku perkuliahan, sayangnya ia memerlukan waktu 5 tahun untuk menyelesaikan studinya. Itu bukanlah waktu yang bisa dibanggakan. Wajarnya seorang mahasiswa menempuh pendidikan sarjana dalam masa 4 tahun. Kendati demikian, ia bisa membusungkan dada di hadapan keluarganya karena bisa menyelesaikan kuliah tanpa menggunakan jasa orang lain.

Tung….

Suara notifikasi itu membangunkannya dari lamunan masa lalu yang indah. Sebuah email masuk dalam inboxnya. Email itu berasal dari perusahaan yang baru saja ia apply. Sejenak ia ragu untuk membukanya. Akankah ini sebuah penolakan seperti yang sudah-sudah ? Ataukah ini harapan baru untuk meniti karir dalam dunia profesional ?

Setelah keheningan beberapa saat, ia pun membuka email tersebut. Dengan raut wajah yang tegang, pria itu membaca kata demi kata yang tertera pada email tersebut. Ketegangan yang melandanya seolah sirna berganti dengan kehangatan diwajahnya.

“Hehehe….akhirnya….”

Undangan interview dari perusahaan adalah hal yang sangat membahagiakan baginya. Entah sudah berapa lama ia tidak menerima balasan seperti itu. Dalam email tersebut menyebutkan bahwa interview akan dilaksanakan besok di kantor pusat jam 10:00.

Di keesokan harinya, ia berangkat dengan penuh semangat dan percaya diri. Setelan kemeja putih dan berkerah dengan dasi hitam serta jas hitam membuat aura profesional memancar dari tubuhnya. Raka telah stand by di lokas yang ditentukan 30 menit sebelum jadwal interview. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika memenuhi undangan apapun, termasuk interview kerja.

Selama proses interview berlangsung, Raka menjawab apapun yang di tanyakan oleh HRD dengan percaya diri. Dari raut wajah orang yang meng-interview-nya terlihat cukup puas dengan jawaban yang diberikan.

“Mas Raka terlihat sangat bersemangat dengan interview ini. Kami juga melihat bahwa Anda cukup profesional terlihat dari CV yang Anda berikan. Sayangnya kami belum bisa menerima mas Raka menjadi bagian dari kami.”

Bagai tersambar petir di siang bolong, jantung pun terasa berhenti berdetak mendengar jawaban itu.

“Jikalau boleh tau, apa yang kurang dari kemampuan saya sehingga bisa saya perbaiki untuk pengembangan karir saya?”

“Secara kemampuan, Anda sudah cukup baik. Namun kami mencari kandidat dengan kualifikasi pendidikan sarjana di bidang manajemen, akan lebih baik lagi jika kandidat tersebut adalah seorang perempuan. Selain itu umur Anda sudah cukup senior, kami kurang mampu menyesuaikan kompensasi dengan kualifikasi seperti Anda. Kami harap Anda bisa mendapatkan kesuksesan di tempat lain. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk sesi interview ini.”

Lemas, letih dan lesu.

Itu adalah hal yang kini menjalar di sekujur tubuh Raka. Mengapa?

Sebuah pertanyaan paradoks yang tak ada jawabannya.

Mungkin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *